It’s the climb… (khatam)

13 Feb 2011

baca dulu part-2-nya..

… Kita berangkat sebelum pukul 8 pagi, melewati satu shelter, dan akhirnya pada pukul 10.15,

Summit attack!!

..itu istilah bekennya untuk kita nyampe (menyerbu) puncak. Perasaan bahagia memenuhi dada. Syukur alhamdulillah angin winter pada saat itu ga terlalu terasa, sehingga kita bisa menikmati suasana puncak dengan tenang. Gua masih inget kisah naik gunung sebelumnya, summit attack jam 7 pagi di Seoraksan. Keren sih kita bisa ngelihat sunrise dari pantai timur Korea. Tapi suhu dingin dan angiiin super kencang membuat kita ga betah lama2 berada di puncak, bawaannya mau cepet2 pergi, untuk foto2pun jadi sulit karena ketika angin berhembus kita tertelan awan kabut es (heran, padahal waktu itu masih fall).

Kurang lebih hanya 15 menit kita beristirahat dan foto2 di . Dan untuk pertama kalinya, Ardy minta difoto (bukti sudah menaklukan satu gunung lagi :D). Guapun meminta bantuan seorang Ajosshi untuk ngambilin foto gua berdua sama Ardy di prasasti puncakCheonwangBong 1915 m (^_^)V.

Semenjak hari kedua, gua udah pake geiter. Itu loh alat yg untuk nutupin betis dan diikat ke bawah sepatu, fungsinya agar salju ga masuk ke sepatu dan celana. Sedangkan Ardy sama sekali ga make geiternya (padahal bawa). Pas gua ngajak dia untuk make, dia bilang “ya lu pake aja, gua sih enggak”. Dia bilang gua sering masuk2 ke salju. Yak betul sekali! Ada dua alasan kenapa gua sering masuk ke salju, pertama adalah karena gua emang sering jalan cepet2, dan kedua adalah gua sering jalan sambil ngangkat kamera atau ngerekam video di HP. Dengan kata lain, kadang gua ga peduli apa yang akan gua pijak (selama ga ada jurang ye :p). Ya akhirnya gua doang yang make geiter. Dan syukurlah gua pake geiter, karena ternyata di hari kedua gua makin sering masuk ke salju secara sengaja untuk mengambil gambar dari angle2 yang bagus.

Naik gunung di Korea memang terlihat mudah. Di dalam foto, kita bisa lihat banyak jalur di gunung yang sudah difasilitasi, misalnya dikasih rambu, tali, tangga, dsb. Itu memang benar adanyatapiwinter hiking beda! Jalur2 yang tadinya jelas sering absurd karena tertutup salju (pegangan tangga aja bisa tertutup sempurna). Jadi kita cukup sering menemukan jalan setapak yang bercabang, kita ikuti salah satunya dan ternyata buntu (mungkin awalnya ada satu orang yang nyasar, terus dua, tiga, empat, dst, sehingga jalan setapak itu semakin jelas). Satu hal yang paling menarik dari perjalanan ini adalah kita jadi belajar membedakan jejak kaki.

Selepas dari puncak Cheongwangbong, kami menuju ke 1 shelter terakhir sebelum ke arah pulang. Bagi yang belum tahu, taman nasional Jirisan ini adalah pegunungan. Jalan sesudah dan setelah puncakCheongwangbong melalui banyak puncak, yang mana ketinggian dan kecuramannya 11-12 sama Cheonwangbong. Meskipun kita jalan bukan pas lagi dingin2nya winter, tapi tetep aja yang namanya puncak gunung itu selalu terselimuti oleh salju. Dan masalahnya adalah,

gua ga tahu salju itu (bisa) seberapa dalam.

Dan terjadilah.. satu jalan yang kita pilih ternyata buntu, putus, alias jejak manusianya berhenti begitu saja. Biasanya kita ketemu jalan buntu di tempat yang cukup tertutup, misalnya di semak2 atau di pepohonan, kali itu jalan buntunya benar2 berada di tempat yang terbuka. Karena kita belum ingat nyasarnya (nemu jalan bercabangnya) dimana, gua langsung aja melihat ke sekitar dan gua melihat ada jalan (baca: jejak) berjarak kira2 5 meter dari titik jalan buntu itu. Gua ngasih tau jejak yang gua lihat ke Ardy (maksudnya agar kita terobos ke situ), tapi Ardy ga mau ke situ, dia cuma bilang “silahkan aja kalau lu mau”.

Berbekal kepercayaan diri karena memakai peralatan salju yang lengkap, gua langsung saja terjun ke lautan salju untuk mencapai “jalan” yang gua lihat. Dan weleh2, ternyata jejak itu adalah bukan jejak manusia, melainkan jejak hewan yang lebih kecil namun karena banyak sehingga terbentuk “jalanan”. Salju di “jalan” itu kira2 setinggi lutut.

Gua berada 5 meter dari jalan manusia. Dan gua sedang berada di tengah2 laut salju. Ardy menghilang. Bukannya langsung kembali ke “pantai”, gua malah berenang lebih dalam, masih mencoba mencari jalan yang benar. Lama kelamaan gua makin sadar, salju ini semakin tak berdasar.

Gua tenggelam sampai ke dada.

Gua mencoba bertahan. Menggunakan prinsip tekanan, gua tahu cara jalan gua harus dirubah. Gua mencoba merangkak ala marinir. Tapi ternyata, baru tahu, merangkak menanjak dengan pakaian salju lengkap dan tas berisi yang totalnya hampir 10 kilo itu ga mudah. Setengah meter aja sangat sulit untuk ditempuh. Ganti strategi, akhirnya gua jalan pake paha dan betis, secara tangan gua useless, terlalu lemah untuk bisa menggerakan badan dan bawaan gua yang berat. Strategi itu mulai berhasil! gua bisa bergerak, satu-dua meter,

lalu terperosok lagi…

Masyaallah, gua baru tahu ternyata salju itu beda2. Salju yang paling lembut, yang paling enak untukkita mainkan, pegang, dan tiup2, adalah jenis salju yang paling mematikan. Salju jenis itu sangat rapuh dalam strukturnya, saling bebas satu sama lain, membuat banyak rongga udara, dan sangat tidak bisa menahan beban dari atas. Tiga menit lebih gua berenang di dalam lautan salju. Jalan, terperosok, jalan sedikit, terperosok lagi, dan begitu terus berulangkali. Parahnya, gua sama sekali ga bisa bedain mana tempat yang dalam mana yang cetek (terperosoknya). Karena ga fokus, guapun makin tersesat di lautan salju.

Berhenti sejenak,

Pakaian salju yang lengkap dan adrenalin menjaga tubuh gua agar tetap hangat. Alhamdulillah, meskipun rada panik, tapi tenaga belum sepenuhnya hilang, dan diri masih bisa menenangkan pikiran. Dan akhirnya, pohon! Iya, ranting pohon yang menyembul dari dalam salju adalah satu2nya hal yang gua tau bisa dijadikan pijakan. Meskipun gua mungkin nyangkut2 di situ, tapi setidaknya gua tau di situ gua ga akan tenggelam. Akhirnya gua memfokuskan diri untuk berjalan dari satu pohon ke pohon yang lain. Dan tiba2 terdengar suara Ardy… (alhamdulillah), “Oi, ini gua ketemu jalan yang bener..”. Tak lama kemudian si Ardy-pun kelihatan lagi.

Karena Ardy juga tahu dia ga bisa bantu gua, dia cuma ngelihatin gua aja. Munculnya Ardy memberikan fokus bwt gua, “gua tahu tujuan gua sekarang!”. Berbekal semangat dan kombinasi teknik yang gua pelajari sebelumnya, gua bisa mencapai Ardy dalam waktu kurang dari semenit.

Dan kamipun jalan kembali…

Guapun ngajak ngobrol,

“meskipun tadi gua hampir mati, tapi gua ngerasa seru loh bisa ngerasain kayak gitu!”

Ardy bales,

“Iya, lu bisa ketawa2 karena selamat. Kita tuh baru ketawa2 nanti kalau kita semua sudah pulang dengan selamat.”

Gua berpikir sejenak, terus ngejawab,

“Iya sih, gua jadi paham tentang yang lu bilang kemarin, kondisi hidup dan mati.”

terus Ardy nambahin,

“Lebih baik muter daripada ngambil jalan pintas yang bahaya”

Yang terakhir itu bener2 masuk ke hati dan pikiran gua..

Tujuan..

Pola jalan kita hampir berbeda sama sekali di hari ketiga. Sebelum berangkat naik gunung, gua cukup naif untuk berpikir tentang

“3 days, 2 men, 1 mission”

Namun di perjalanan, gua semakin sadar bahwa tujuan kita naik gunung ini cukup jauh berbeda. Ardy, menurut penerawangan gua, punya tujuan utama untuk menaklukan semua gunung. Semakin sulit medannya, semakin panjang rutenya, semakin bagus bwt dia. Lalu kedua, menurut gua, misi dia yang lainnya adalah untuk membantu orang bisa naik gunung. Therefore, Doi, dengan lapang dada, tangan terbuka, bibir tersenyum, akan menawarkan bantuan untuk rekan seperjalanannya, misalnya ngebantu bawain barang, nunggu2in, ngasih motivasi, dsb.”Semua orang bisa naik gunung!”, itu motonya dia. Kecepatan (pendakian) ga terlalu jadi masalah buat dia.

Sedangkan gua mungkin rada jauh dari tipe yang biasa dibantuin Ardy. Gua koboi, tujuan perjalanan gua adalah mencari tantangan dan belajar dari apapun yg diberikan oleh alam & perjalanan ini, tujuan lainnya foto2(pastinya! :D). Gua ga minta ditunggu2in (tapi makasih dibawain sleeping bagnya :D), dan dalam hal ini gua adalah..

Koboi salju (hampir jadi mumi salju..)

Hikmah lain dari perjalanan ini adalah gua belajar tentang pentingnya tolong menolong dan perhatian. Gua mungkin ga akan selamat tanpa Ardy di hari terakhir. Dan Ardypun mungkin ga akan selamat tanpa ditemani gua di hari pertama.

Banyak orang Korea yang bersimpati dan memberikan buah, permen, makanan, bahkan minuman (tapi kita tolak), karena melihat ada warga asing mau melakukan hal yang mereka anggap baik (baca: naik gunung). Mereka rada heran ada 2 orang Indonesia mau2nya naik gunung dengan rute terberat di seantero Korsel, pas winter pula. Ada satu hal lain yang juga menarik, lutut kiri gua di hari ketiga mulai sakit (mungkin karena keseringan tiba2 jongkok untuk ngambil foto). Biarpun begitu, sakit itu sering bisa gua tahan, dan kecepatan jelajah gua ga jauh beda dengan orang Korea. Di etape terakhir perjalanan, ada orang Korea yang jalannya cukup bareng dengan kita nanyain,

Itu ga sakit?

kirain dia nanyain Ardy, yang tasnya segede gaban. Taunya dia memperjelas,

“Moreppaga appajyo?” (lutut kamu sakit ga?) <- sambil nunjuk lutut kiri, dan nawarin tongkatnya untuk gua pake.

Gokil, gua kaget aja.. ternyata biarpun gua udah nutupin kelemahan gua. Tapi aja ada orang yang bisa ngelihat itu. Sebelumnya Ardy udah gua kasih tau lutut gua sakit, tapi dia ga bisa ngelihat kalau lutut kiri gua itu yang sakit. Bahkan Ardy sempet menduga kalau tuh orang bisa tahu lutut gua sakit karena suara (emang gua bikin suara apa Om??). Guapun menolak tawaran tongkatnya. Secara, dengan asumsi tongkat harus dibalikin, itu artinya kita harus jalan bareng sama grupnya dia (sedang kita waktu itu lagi jalan kebut2nya).

Akhirnya, selesai…

Kami akhirnya keluar dari jalur alam ke jalur kota (baca: jalan aspal). Ternyata dari situ, kita masih harus jalan 5.5 kilo lagi ke tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir, ternyata belum ada kendaraan umum, jadi kita harus jalan sekitar 4 kilo lagi ke tempat bus. Again, biarpun kecewa, dinikmatin ajalah.. Gua terus foto2 di sepanjang jalan itu. Dan akhirnya sampailah kami di terminal busnya. Lalu gua baca, “Masan”, “Busan”, “Jinju”… WHATT?? Ga ada satu buspun yang ke arah Kota2 di utara,where we live. Again, disyukuri lagi, alhamdulillah masih ada bus, coba harus jalan kaki lagi pulangnya.. xD

Kami masih harus menunggu sekitar 1 setengah jam untuk naik bus pertama ke Jinju. Setelah bosan menunggu di udara dingin, gua pergi ke hwajangsil untuk menyelesaikanunfinished business dan juga ganti pakaian bersih. Gua minta Ardy untuk menyalakan HPnya yg sebelumnya dimatikan, untuk ngebel gua pas bisnya dateng. Dan benar aja, busnya datang pas gua masih di WC yang jaraknya 150 meter (sebenernya pas dah kelar sih). Dengan kecepatan kilat, gua merapihkan semuanya, berlari menuju tempat nunggu bis, dan mengambil tas yang ditaruh di atas bangku. Dan apa yang gua katakan di awal menjadi kenyataan…

winter gears sekali pake

Crampon dan geiter gua nampaknya tertinggal di situ di hari itu.. (ToT.. innalillahi wa innailihi rojiun..)

~baca juga: Naik-naik ke Bukhan gunung..


TAGS jirisan winter hiking naik gunung


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post