It’s the climb… (part 2)

12 Feb 2011

baca dulu part-1-nya..

Jalan hari kedua…

Pas hari kedua ini, pola jalan kita mulai berubah. Pada awal perjalanan di hari pertama, Ardy selalu nungguin gua. Selama gua ga keliatan dia ga akan jalan, atau nungguin.Secara gua suka ngilang bwt foto2 ga jelas, jadi gua rada lama di jalan. Ardy adalah tipikal guide sejati, dia emang terkenal sabar banget nungguin orang. Kayaknya untuk orang seperti Ardy, naik gunung itu bukan lagi tantangan. Tantangan bwt dia sebenernya adalah bikin orang lain (baca: semua orang) bisa naik gunung, dan ngerasain yang namanya sampe puncak gunung. Tapi menjelang gelap (lihat: jalan hari pertama), karena gua udah ga foto2 lagi (gelap2 mau moto apa) dan juga beban berat tasnya Ardy, gua yang sering berada di depan. Di situasi itu gua yang nungguin dia. Mbah gunung juga manusia, serem aja kalau ninggal2in (baca: jalan sendiri2) orang di situasi begitu.

Di hari kedua pola jalan baru mulai terbentuk. Ardy masih lebih sering jalan di depan. Tapi kadang gua yang di depan. Gua bukan tipikal orang yang suka nunggu2in, terutama kalau gua anggap orangnya mampu dan mandiri untuk jalan sendiri (gua rasa Ardy masuk kategori ini). Dikarenakan aktivitas fotografi dan kelincahan gua (tas gua jauh lebih enteng dibandingkan Ardy), agar waktunya lebih efisien kita jalan sendiri2, ga main tunggu2an. Tapi tetep pada akhirnya secara ga disengaja akhirnya kayak tunggu2an juga. Misalnya gua jalan duluan di depan, pasti ada aja tempat indah dimana gua berhenti bwt moto2. Kalau gua ketinggalan, tar gua bisa jalan cepet (bahkan berlari) untuk ngejar si Mbah. Tapi biarpun begitu yang namanyatunggu2an masih tetep ada. Ardy udah gua minta untuk ga nungguin gua (secara gua bisa gerak cepet), tapi kita masih sadarlah kalau gimanapun kita tuh naik gunung ini berdua.

Berangkaaat…

Setelah solat, masak, sarapan, kamipun berangkat kira2 pukul 9 lewat 10. Target perjalanan kami adalah mencapai 3 shelter di depan, atau shelter yang terletak persis sebelum puncak tertinggi di Jirisan. Pukul 10:220 kami sampai di shelter pertama. Nama shelter itu adalah Boksoryeong. Alasan kenapa nama shelter ini penting untuk diketahui adalah.. (hehe, tar dulu deh). Ardy langsung duduk melepas tas dan lelah di situ, dan gua dengan cueknya foto2 pemandangan yang bagus. Namun aktivitas foto2 itulah gua sering lupa kalau 2 termos yang isinya minuman hangat ada di gua, Ardy selalu membawa air putih (yang mana gua ga bawa), tapi bayangkan betapa nampolnya minuman hangat semacam bandrek atau teh manis di dalam keletihan dan cuaca dingin seperti itu. (Again) Sorry Bro..

Tak sampai 15 menit istirahat, kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah ke puncak tertinggi, yakni CheonwangBong (???). Namun di shelter itu tak ada panah jelas menuju cheonwangbong, yang ada hanyalah panah menuju desa DaesongRi. Dan ada pintu yang ditutup palang. Gua nanya ke seseorang, “cheonwangbong odiro gaseyo?” Orang itu lalu menunjuk2 dengan jarinya, sambil bilang “ke situ2″, dan kita menagkap petunjuk dari dia bahwa arah menuju desa itulah arah ke puncak Cheonwanbong.

Kami akhirnya mulai jalan menuju DaesongRi. Jalanan terasa ringan karena turun terus. Karena ga biasanya (turun terus), gua bilang ke Ardy,

Ini jalanan turun terus, artinya nanti kita harus naik terus.

Ardy bilang dia juga curiga ini jalan kayaknya ga bener.

Air Es Terjun

Tak lama setelah itu, kami menemukan salah satu spot terindah dalam perjalanan kami, sungai es. Yang menarik dari sungai es ini, bukan hanya ada aliran air biasa yang membeku jadi es, tapi juga aliran arus cepat seperti air terjun-pun membeku jadi es, mulai dari air terjun yang tingginya hanya 20 centimeter sampai yang berukuran satu meter lebih. Detil percikan air yang biasa mewarnai air terjun kini bagaikan berhenti oleh waktu. Variasi (ukuran dan bentuk) garis air dalam air es terjun membuatnya menjadi sangat menarik. It’s simply like seeing a waterfall frozen in a fraction of time (subhanallah…)

Setelah beristirahat sebentar dan merekam es terjun ke dalam sensor kamera, kamipun melanjutkan perjalanan menuju desa yang mencurigakan ini. Sekitar 15 menit setelah es terjun, kami berpapasan dengan orang dari arah bawah. Ardy bertanya. Dan ternyata…

kita salah araaaah >,<..


Ini desa ya benar2 desa, alias itu jalan adalah jalan pulang ke peradaban, ga ada puncak, ga ada ojek (di Korea mana ada ojek! :p). Subhanallah, dan kamipun kembali lagi ke Boksoryeong. Total 3 jam waktu yang diperlukan untuk berjalan dari Boksoryeong menuju Boksoryeong (???, luar biasa… sekarang tau kan kenapa ni shelter namanya penting ;)) .

Dalam perjalanan menanjak kembali menuju Boksoryeong, meskipun gua tau dia kecewa berat, Ardy tetep ngomong,

setidaknya kita jadi nemu air terjun es yang bagus itu kan!

Yo’i.., gua setuju.

Kembali ke Boksoryeong, kami akhirnya ISHOMAMA (istirahat, sholat, masak, makan) di situ. Di setiap shelter biasanya ada air bersih. Tempat untuk mengambil air kadang ga terletak di dekat bangunan shelter. Mungkin tempat air sengaja dibikin jauh supaya air ga cepat habis (orang musti pake usaha untuk ngambil air). Di Boksoryeong ini, untuk ngambil air turun ke hutan sejauh 70 meter. Badan udah capek akibat nyasar, tapi apa boleh buat air harus tetap diambil. Pas nyampe di bawah, ternyata airnya ga keluar. Reservoir air, yang gua lihat sudah tersekat cukup baik, masih ga bisa ngalahin dinginnya suhu sehingga airnya membeku. Walhasil, gua balik dengan tangan kosong.

Gimanapun juga kita tetap butuh air untuk masak. Lagi2 dapat ide karena nonton Discovery channel, akhirnya kita menggunakan salju sebagai sumber air. Satu hal yang ga sesuai ekspektasi, ternyata salju di sekitar shelter itu kotor. Badan udah terlalu capek untuk jalan kemana2 lagi. Akhirnya kita gali aja salju itu sehingga muncul salju lapisan bawahnya yang lebih bersih. Itulah yang akhirnya kita masak jadi air bersih. Selagi Ardy masak, gua solat dan wudhunya juga pake salju ^^ (enak loh).


Belajar kepada pengalaman hari sebelumnya, dan kekhawatiran akan habisnya baterai lampu senter, kami merevisi target hari itu menjadi 2 shelter sebelum Cheonwangbong, atau 1 shelter setelah Boksoryeong yang berjarak 6 kiloan dari Boksoryeong. Dan alhamdulillah, 2 shelter sebelum Cheonwangbong bisa dicapai sebelum gelap, yakni pukul 5:30 sore. Kamipun bermalam di situ. (kamipun jadi orang waras malam itu :))

Jalan hari ketiga…

Hari ketiga kami berangkat lebih pagi dari hari sebelumnya. Kita bisa tidur lebih awal karena kita sampai shelter kemarin sebelum gelap. Meskipun gua sempat terbangun beberapa kali di shelter, ngecharge hapelah, buangnasal mucus, dan juga ke belakang, tapi gua merasa cukup seger paginya (tetep so much better that first night-lah!). Kita berangkat sebelum pukul 8 pagi, melewati satu shelter, dan akhirnya pada pukul 10.15,

(bersambung… ke part 3, tamat)


TAGS jirisan winter hiking naik gunung


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post