It’s the climb… (part 1)

10 Feb 2011

Gua ga ngerti kenapa gua jadi suka naik gunung di Korea. Gua bukan anak gunung sewaktu di Indonesia, ga ikutan pecinta alam, MenWa, PMR, SAR, TNI/POLRI, apalagi jadi pecinta sesama jenis (naudzubillah…). Terakhir kali gua ngikutin yang namanya kegiatan naik gunung adalah pas SMP. Itu juga bukan karena gua suka, tapi karena wajib (waktu itu SMP gua di kaki gunung Salak, jadi sering dipaksa pulang-pergi ke puncak gunung Salak, entah u/ pramuka atau “sekedar” kegiatan olahraga). Satu hal yang bikin gua jadi pengen naik gunung kayak anak2 gunung lainnya adalah… kayaknya asyik! ;)

Ternyata asyik!

Berawal dari ikut2an (kayaknya asyik), sekali, dua kali, akhirnya tiga kali gua naik gunung di Korea. Satu hal yang paling berasa ketika naik gunung, adalah kepuasan ketika mencapai puncak. Rasa lelah, capek, haus, pegal2, dsb, ketika naik, hilang seketika ketika kita sampai di puncak. Dari puncak, kita bisa melihat 360 ke segala penjuru mata angin tanpa dihalangi oleh sesuatu apapun, sungguh pemandangan yang menakjubkan dan menenangkan hati. Poin lainnya, rasa kebersamaan ketika berjuang dengan susah-payah dan mencapai sukses (puncak) bersama teman2 seperjalanan, merupakan suatu kisah yang luar biasa, dan selalu menarik untuk dikenang.

Oke, gua dah tiga kali naik gunung di Korea, BukhanSan, GwanakSan, dan SeorakSan. Lalu ada teman yang menceritakan dan mengajak untuk naik Jirisan pas winter…

Naik gunung pas winter

Gua juga awalnya ga ngerti kenapa gua tiba2 memutuskan bahwa diri gua WAJIB naik gunung pas winter. Sebenernya ada cerita, winter yang lalu, awal tahun 2010, ada temen (di luar geng naik gunung gua) ngasih liat video pas dia dan teman2nya naik ke Taebeksan (???). Dalam video itu, untuk pertama kalinya gua ngelihat yang namanya dunia es. Ga kayak dunia es buatan ala Ice World di Bandung, Jakarta, atau bahkan yang paling terkenal di Harbin, RRC, dunia es di video itu 100% fenomena alam. Mulai dari daratan yang full ketutup salju, air yang membeku, bahkan sampai pohon dan ranting2nya membeku menjadi es. Bayangin lu jalan di tempat di mana pohon2nya jadi kanopi (menutupin kepala lu), nah pas winter itu kanopi ranting2 itu semuanya jadi es. Asli, Cool abisslah pokoknya, bikin mupeng… (sayang videonya ga dishare oleh ybs).

Winter tahun ini, hampir semua anak yang tadinya bilang pengen (bahkan yang nyeritain) untuk menjelajah Jirisan 3 hari 2 malam pas winter, batal, mengurungkan niatnya, atawa moal/emboh. Ada yang lagi boke, lagi pulkam, dan ada lagi alasan yang rada aneh, ada temen yang bilang naik gunung ga bikin masuk surga karena di saat yg bersamaan lagi ada mabit/taklim penting gitu (karena ustadnya spesial datang dari Indonesia). Sejenak gua berpikir, ada taklim.. dan gua sebagai mahluk sosial biasanya juga males kalau aktivitas ga rame2. Tapi hiking 3 hari ini hanya bisa waktunya ketika Seollal. Selain itu, ada satu hal yang mengganjal perasaan gua, This one particular hiking must be different!

And it is..

Bismillah, akhirnya gua tetep yakin pengen berangkat. Teman setia hiking, sekaligus mentor, dan juga mbah gunung, Ardy Mustofa, langsung gua kontak. Ga peduli siapa lagi yang mau ikut, asal ni mbah mau nemenin gua, bismillahlah berangkat! Dan bener aja, mbah Ardy menyambut dengan tangan dan dompet terbuka.

Iya, dompet!!!

Naik gunung pas winter ga sama dengan naik gunung di musim2 lainnya, harus modal peralatan khusus seperti Crampon dan Geiter. Crampon untuk mencengkram es dan salju, sehingga kita ga terpleset. Geiter untuk menutup pergelangan kaki dari salju, sehingga salju ga akan masuk ke sepatu atau celana. Kita berdua sama2 belum punya peralatan itu.

Sebagaimana buku “Hiking 101″ karangan Hasrul Ma’ruf, S.G.S, (sarjana gunung salak) peralatan gunung bisa diperoleh dengan dua cara, yaitu (1) BELI di toko, atau (2) PINJAM di teman (haha, ga penting bgt! :p). Satu-per-satu teman gua tanyain. Satu ternyata mau naik gunung juga pada waktu yang bersamaan (maklum, pas lagi musim liburan Seollal) tapi ke gunung yang lain. Satu lagi, akhirnya gua ga jadi minjem ke dia, malu, eh gengsi, hehe.. Bottom line, akhirnya gua memutuskan untuk beli juga. Mbah Ardy-pun akhirnya mempercayakan gua u/ beliin peralatannya (berhubung gua jago klak-klik, simsalabim barang nyampe).

Ardy, mungkin terlahir sebagai hiker dari ujung kaki sampe ujung rambut, nitip beliin crampon yang pro. Gua sendiri, masih dilema. Gua mungkin cuma 6 bulan lagi di Korea (atau di negeri yg memiliki 4 musim), jadi gua pikir apapun winter gears yang gua beli cuma sekali pake. Di sisi lain, gua rada takut juga kalau gua beli crampon yang ecek2 terus gua kepleset dan wallahu alam :p. Tapi alhamdulillah akhirnya gua dapat crampon yang mirip2 pro tapi harga kaki lima. Pokoknya gua dapat yang bener2 value-pricenya sama2 mantep dah!

WHERE IS MY ICE??

Karena takdir, pada H-1 gua tak sengaja melewati stasiun kereta yang keesokan harinya akan gua jadikan starting point u/ naik gunung. Gua lihat sama sekali ga ada salju atau es di sekitar stasiun itu. Ramalan cuaca-pun menunjukkan suhu cukup hangat pada minggu itu, pada siang hari suhu tidak lagi di bawah nol. Hampir semua teman saya merespon cuaca “hangat” tersebut di fesbuknya dengan riang gembira. Namun gua?? sama sekali tidak.. I’m looking for my ice world!! >,<

Meskipun cuaca tidak sesuai yang diharapankan. Dan meskipun badan lelah dan tenggorokan juga hampir radang akibat tak sengaja keliling Korea(baca: nyasar)pada H-2 dan H-1. Namun janji telah diucapkan, dan Crampon+Geiter-pun sudah dibeli. So, again I said to myself, !??? ????“, “???!”, “Just do it!”, “hajar bleh!” (i just kept believing there must be something on this trip…)

SESAMPAINYA DI SANA

Setelah naik taksi dari yok/? (stasiun kereta), kami sampai di tempat parkir di Nogodan (ujung timur dari taman nasional Jirisan). Oh iya, Jirisan adalah nama gunung sekaligus nama taman nasional. Di taman nasional Jirisan ada beberapa gunung. Di gunung Jirisan sendiri ada lebih dari 10 titik yang disebut puncak, atau bong (?) dalam bahasa Koreanya. Di dalam taman nasional Jirisan terdapat 7 shelter (tempat berlindung), yang biasa dipakai untuk beristirahat atau bahkan menginap oleh para pendaki.

Masih di tempat parkir di Nogodan, Ardy merapihkan dan mengecek perlengkapan dan perbekalan kami. Ternyata.. kita berdua ga bawa botol air plastik. Kalau termos gua bawa 2, udah berisi sama air panas dan juga bandrek. Si ardy ngarepin di atas (tempat parkir) itu ada yang jual. Namun emang kita lagi ga hoki (mungkin karena lagi liburan Seollal), toko yang jualan botol air di situ tertutup oleh kerangkeng tanpa penjual, cuma bisa dilihat dari luar di dalamnya dijual air mineral (hiks..) Sempat bingung, Ardy melihat ada botol plastik aneh bekas soju/makolli/mekju (apalah namanya, pokoknya itulah!), dan nyuruh gua untuk nyuci tuh botol, untuk selanjutnya dipake untuk menyimpan air. Botol yang bentuknya mirip botol jin ini akhirnya gua cuci dan gua isi air dari dispenser. Tapi sebelum dimasukkin ke carrier (tas raksasa yg biasa dipake pendaki)-nya si Ardy, gua iseng ngebalik tuh botol. Dan tess..tess.. tess.. biarpun dah ditutup rapat, tuh botol tetap netesin air, alias ga bisa rapat dan sangat rawan bikin becek isi tas lain yang seharusnya kering. Zzzz….. (emang dasar botol jin!!).

Pusing2, gua bilang ke Ardy, “gua mau ke WC!” Emang dasar insting pemulung, pas lagi jalan ke WC, gua ngeliat tempat sampah. Dan dilalahnya tempat sampah ala Korea adalah sampah tuh dipisah2. Ngeliat ada tempat sampah khusus botol plastik, dan wattaaa… buanyak botol bekas air mineral di sana ^^. Kesenengan, langsung aja gua ambil 2 botol ukuran 2 liter dan balik ke Ardy. Tapi… ternyata (haha, again) satu botol yang gua ambil bekas botol cairan radiator mobil, ya pokoknya akhirnya gua tukerlah sama botol air mineral.

Jalan hari pertama…

Kita mulai berangkat pukul 3:05 sore. Perjalanan lancar, aman dan terkendali.. Semakin ke atas jalan semakin tertutup oleh salju. Nampaknya meskipun ga ada salju sama sekali di kaki gunung, di daerah puncak saljunya masih sangat tebal. Kami awalnya belum memakai Crampon karena kelicinan masih bisa diatasi dengan sepatu gunung biasa. Setelah melewati shelter Nogodan, jalanan mulai terasa licin dan baru kita memasang crampon. Dan ternyata ga salah, kaki2 kami jadi dapat mencengkram es dan salju dengan mantap.

Awalnya Ardy berencana agar kita bermalam di Shelter Paikol. Shelter Paikol ini 2 kilometer melenceng dari rute utama (nantinya kami harus jalan 2 km lagi sekedar untuk kembali ke rute utama). Namun karena menurut peta itulah shelter yang terdekat dan terjangkau sebelum gelap, jadi untuk amannya kita harus bermalam di situ. Konyolnya, ketika kami sedang berjalan menuju Paikol, ada orang Korea (bagi yang belum tahu, orang Korea itu Ardy semua! wkwkwk) tiba2 berbalik arah, dan memutuskan kembali ke rute utama. Gua ga ngerti apa yang terjadi, tapi Ardy terlihat seru nunjuk2 peta bersama si Ajosshi ini, dan akhirnya Ardy bilang ke gua, kata si orang itu ada shelter di sekitar sini (sambil nunjuk peta, padahal di situ ga ada apa2). Sebagai orang yang cuma bisa ngikut (ya gua suju hiker gtu), gua sih oke2 aja apa kata teman senior gua ini. Lagipula, sedari awal prinsip gua di hiking ini adalah

“whatever will come, just come, coz that’s what im looking for..”

Jam 6:30, langit sudah gelap, udara mulai beralih dari suhu positif ke negatif, shelter yang tadi ditunjuk oleh si orang Korea ternyata ga ada! Palsu! Kita udah jalan 2 kilo, atau sejam lebih semenjak kita dibohongi. Jarak ke Paikol sekarang sudah 4 kilo, dan untuk ke shelter selanjutnya (yg berada dalam rute utama), jaraknya hampir 5 kilo -.-”. Ya pastilah kita ga mau balik lagi! Selain jalan balik itu sumpah nge-bete-in, balik ke Paikol artinya kita besok harus jalan 8 kilo hanya untuk kembali ke tempat saat itu kita berdiri.

Mbah gunung juga manusia. Ardy, sebagai suse (super senior) dalam hal pergunungan, dengan baik hati membawakan sleeping bag gua dan beberapa perlengkapan penting lainnya. Sebelum jalan gua nyoba manggul carriernya dia, dan gua rasa itu beratnya ada 20 kg (tas gua sendiri ga nyampe 10 kilo). Suhu yang terus turun sampai minus 7, jarak pandang yang pendek, dan beban yang berat membuat si Mbah semakin kelelahan. Beberapa kali beliau (hehe jadi mbah beneran deh) mengusulkan untuk gelar tenda (baca: menginap, soalnya kita ga bawa tenda) di tengah jalan. Gua sih ga 100% menolak ide itu. Gua sering nonton discovery channel dan melihat cara survival di cuaca dingin. Tapi somehow, gua ga yakin aja kita bisa selamat kalau tidur semalaman di luar ruangan pada saat musim dingin. Di discovery channel itu orang minimal punya sekop atau peralatan untuk membuat kanopi sehingga seluruh sisi bisa tertutup dari angin pembunuh. Sedang kita? cuma punya sleeping bag/selimut pas2an dan pisau keciiil banget, mau jadi apa kalau berdiam diri (baca: tidur) terus kena angin “sepoi2″ selama berjam2? Ardypun langsung setuju dengan ide jalan terus! Tak terhitung lagi beberapa kali kita berhenti karena beban yang berat. Kitapun sempat makan malam di cuaca dingin tersebut demi mengisi energi. Karena kasihan gua ngasih saran ke Ardy untuk sedikit mengurangi isi tasnya, seperti botol air dikurangi 1 dan tisu juga, namun dia menolak karena alasan ga boleh buang sampah sembarangan di alam.

Di dalam krisis tersebut, gua beberapa kali ketawa2 dan bikin lelucon tentang kondisi saat itu. Lalu Ardy dengan nada serius bilang ada yang mau dia sampein ke gua. Meskipun awalnya enggan untuk nyampeinnya, eh akhirnya dia ngomong juga.

Ini kondisi serius, bukan kondisi untuk ditertawakan. Ini persoalan hidup dan mati.

Masih belum ngeh (baca: setuju) dengan hal itu, gua berdalih, ya gua emang begini orangnya,

Seberat apapun kondisi yang gua hadapi, kalau itu memang ga bisa dielakkan lagi, harus dijalani, pasti akan gua tertawain biar gua anggap ringan.

(yang terpenting kan gua tau masalah itu penting, dan gua ga menghindar ataupun giving up)

Alhamdulillah, atas kasih sayang Allah, kami bisa sampai dengan selamat di shelter Yonhacheon pada pukul 10:30 malam. Karena sudah malam, semua orang di shelter tersebut sudah tertidur. Karena udah ga mikir apapun, kami langsung aja ngemper di lorong lobi sempit di shelter tersebut dan masak. (mungkin karena berisik) Tiba2 sang penjaga shelter-pun terbangun dan memergoki kami masak di lorong itu. Panik, si Ardy langsung “chuseonghamnida” berkali2 (kitapun tahu aslinya di situ ga boleh masak). Setelah dimarahin sekitar 5 menitan, sang penjaga menanyakan apa kita punya uang 7000 (biaya nginap), langsung aja gua ambil duit dan bayar. Setelah itulah sang penjaga tiba2 jadi orang baik :), kita ditunjukkin dapur dan dinasehati dengan baik2 (mungkin sebelumnya kita dikira orang mau nginep di shelter gratisan). Tapi ada satu omongan dia yang menarik,

Kalian gila, baru datang ke shelter jam segini. Kalian bisa aja mati di luar sana karena cuaca.

Hmm.. ada benernya! (mulai mikir) Masalahnya, gua sama sekali ga ngerasa berat perjalanan malam2 dan dingin2 tadi. Satu2nya hal yang bikin gua berat adalah karena gua tau si Ardy kesulitan… tapi gua ga bisa bantu apa2 selain nemenin ngobrol dan ngasih dia semangat untuk terus berjuang jalan sampai ke shelter (sorry Bung!). Dan dari perkataan penjaga itupun, gua sangat bersyukur bahwa cuaca winter pada minggu itu hangat, karena kalau lagi pas dingin2nya, seperti pas di Seoul siang hari minus 17, tak terbayang jadi apa kita yang malam2 berada di atas gunung.

Lalu kamipun MASHODUR di dalam shelter yang hangat.. (makan sholat tidur)

Jalan hari kedua…

(bersambung, klik ini..)


TAGS jirisan winter hiking naik gunung


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post