From Daejon with Love

1 Dec 2010

FROM DAEJEON WITH LOVE “LASKAR PELANGI” — DAEJEON 27 NOVEMBER 2010

Ony Avrianto Jamhari

Belum selesai rasa keterkejutan dan kesedihan kami semua akan berita adanya bencana alam yang terjadi di Indonesia bulan yang lalu serta kasus penganiayaan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, minggu ini kami juga dikejutkan dengan berita penyerangan Korea Utara ke Korea Selatan. Sebagai warga asing yang tinggal di luar negeri kami semua ikut prihatin dan waspada. Baik bencana alam maupun kejadian yang tak terduga bisa datang kapan saja dan di mana saja. Kita manusia hanya bisa berdoa dan berusaha untuk menjaga kelestariaan alam sehingga bencana alam tidak terjadi lagi dan perdamaian akan selalu terwujud di muka bumi.

Berbagai ragam komentar, perhatian, dan dukungan datang dari berbagai belah dunia terhadap korban bencana alam maupun peristiwa kemanusiaan lainnya, tidak terkecuali masyarakat Indonesia yang berada di Korea Selatan. Tepat pada tanggal 27 November 2010 pukul 18:45 sampai 21:00, masyarakat Indonesia di Daejeon, Korea Selatan yang terdiri dari para pekerja dan pelajar mengelar acara penggalangan dana untuk para korban bencana alam di Indonesia. Acara yang bertajuk “From Daejeon With Love” tersebut memutar film Laskar Pelangi.

Film Laskar pelangi yang sempat diputar di Pusan International Film Festival Korea tahun lalu mampu menyedot pengujung untuk datang dalam acara pengalangan dana ini. Walaupun musim dingin baru saja menyambangi Korea dan suhu udara pada waktu tersebut kurang lebih 0 derajat Celsius, antusiasme warga Indonesia di Daejeon serta masyarakat Korea dan warga asing cukuplah tinggi. 144 tiket pertunjukan sudah terjual habis sehari sebelum pertunjukan berlangsung. Tiket yang dibandrol seharga KRW 7,000 atau sekitar 56,000 rupiah tidak hanya dibeli oleh warga Indonesia tetapi juga warga Korea dan masyarakat asing.

Sangjin Ko salah satu mahasiswa Korea di Universitas Woosong yang datang dan ikut dalam acara ini mengatakan bahwa saya sangat senang bisa menonton film ini di Korea tepatnya di Daejeon. Dengan membeli tiket berarti saya juga bisa ikut berpartisipasi dalam acara pengalangan dana ini. Tidak banyak yang bisa saya berikan namun demikian semoga bantuan yang sedikit ini dapat meringankan beban korban.

Sangjin yang sempat berkunjung ke Indonesia beberapa bulan yang lalu mengatakan bahwa dengan adanya pemutaran film ini masyarakat Korea bisa lebih mengetahui Indonesia. Hubungan antara Indonesia dan Korea sudah baik, dan semoga hubungan ini akan lebih baik lagi di kemudian hari. Saya sangat tertarik dengan Indonesia dan sesudah menonton film ini saya lebih tertarik lagi dengan Indonesia imbuhnya.

Kota Daejeon adalah kota terlima terbesar di Korea. Kota berpenduduk 1,3 juta jiwa ini terkenal dengan julukan “the Silicon Valley”. Kota ini menjadi pusat perkembangan teknologi dan ilmu pasti di Korea. Ada kurang lebih 6,000 warga asing yang tinggal di sini. Mereka umumnya adalah para pekerja dan pelajar.

Margaret Lopulisa, mantan pelajar Indonesia yang sekarang bekerja di SolBridge International School of Business mengatakan bahwa sudah lima tahun saya tinggal di kota ini. Kota ini sudah merupakan bagian dari hidup saya. Ketika ada acara pengalangan dana untuk korban bencana alam di Indonesia dengan sendirinya saya tergugah ikut berpartisipasi dan menjadi koordinator untuk penjualan tiket pertunjukan film ini.

Di kota ini pula, ada sekitar kurang lebih 50 mahasiswa Indonesia yang belajar dan tersebar di berbagai kampus serta kurang lebih 100 pekerja Indonesia yang bekerja di sekitar wilayah Daejoen. Hubungan kedua belah pihak sangatlah harmonis. Tidak ada yang namanya perbedaan antara pekerja dan pelajar. Setiap hari minggu para pelajar Indonesia ini bekerja menjadi sukarelawan untuk menjadi guru bahasa Korea, bahasa Inggris, dan komputer bagi para pekerja Indonesia di Korea. Sedangkan pihak pekerja selalu melibatkan mahasiswa jika ada kegiatan yang mereka lalukan.

Subhan Anas, ketua IMNIDA “Komunitas Muslim Indonesia di Daejeon” mengatakan bahwa dengan hadirnya para mahasiswa ini sangat membantu mereka untuk mengetahui hal-hal baru yang tidak hanya berguna bagi mereka di tempat bekerja tetapi juga bagi mereka di kemudian hari. Para mahasiswa ini menjadi motivator kami untuk terus maju. Sedangkan bagi mahasiswa, kesempatan berbagi ilmu kepada saudara setanah air di negara lain adalah kehormatan yang luar biasa.

Tidak hanya hubungan yang akrab yang terjalin antara pelajar dan pekerja di Daejeon, mereka juga mempunyai hubungan yang baik dengan pemerintah daerah dan beberapa organisasi di Daejeon. Dalam acara pengalangan dana ini, dua lembaga Korea yaitu Daejeon International Community Center (DICC), serta Daejeon Arts Cinema ikut mensponsori acara ini. Kedua belah lembaga ini memberikan dana dan tempat untuk memutar film ini di Daejeon. Sebelum acara ini berlangsung pihak panitia sudah menghubungi Miles Production selaku production house dari Film Laskar Pelanggi dan mereka telah mengijinkan film tersebut di putar di Daejeon.

Ayka Nabivi, mahasiswa asing dari Albarzaijan juga berpendapat sama. Walaupun saya baru pertama kali menonton film Indonesia, saya sangat terkesan dengan acara penggalanggan dana ini. Orang Indonesia sangat solid di sini. Mereka saling bekerja sama dengan semua pihak untuk mensukseskan acara ini. Ketika mereka menawari saya menonton film ini, saya langsung mengiyakan. Saya disambut hangat oleh mereka semua dan merasa di tengah-tengah keluarga saya. Sesudah menonton film ini, saya langsung menyumbang lagi dan saya ingin berkunjung ke Indonesia suatu saat nanti.

Ungkapan senada juga disampaikan oleh Septian Nugraha mahasiswa Indonesia yang baru tiga bulan datang dan belajar di Korea mengatakan saya banyak belajar banyak dari teman-teman di sini. Acara ini tidak hanya sekedar acara pengalangan dana tetapi lebih untuk menjalin silaturahmi antara warga Indonesia di Daejeon serta warga Korea dan komunitas asing yang tinggal di Daejeon. Contoh hubungan yang baik ini dapat ditiru oleh masyarakat Indonesia lain dimana saja.

Setelah pertunjukan film berakhir acara ini diakhiri oleh pemutaran slide photo tentang Merapi dan Mentawai dan penjualan kaos Pray For Indonesia. Dana yang terkumpul dalam acara pengalangan dana dari penjualan tiket dan donasi sebesar KRW. 1,300,000. Dana ini akan langsung disumbangkan ke korban bencana alam. Seperti dalam salah satu adegan di Film Laskar Pelangi, lebih banyak kita memberi sebanyak mungkin dari pada menerima sebanyak mungkin. Apa yang dicontohkan oleh masyarakat Indonesia di Daejeon menjadi bukti bahwa banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu korban bencana alam. Semuanya tergantung apakah kita mau atau tidak.


TAGS 1day4Indonesia


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post