Cobaan kepada Bangsa

1 Nov 2010

2:1552:156

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Al-Baqarah: 155-156)

Indonesia seperti tak hentinya diguncang bencana pada Oktober lalu. Banjir bandang menyapu Wasior, Kabupaten Wondama, Papua. Gempa 7.7 skala richter memicu tsunami yang menyapu garis pantai Mentawai pada Senin, 25 Oktober. Kurang dari 24 jam setelahnya, gunung Merapi meletus beberapa kali, melepaskan aliran piroklastik yang membakar dan menyelimuti desa dalam abu.

Korban jiwa, dan materi berjatuhan, menambah daftar panjang kesedihan masyarakat setelah harus terusir dari tempat tinggalnya. Sebagian manusia mungkin bertanya, “dimana keadilan Tuhan?”. Manusia terus beribadah, dan sekarang banjir tetap melanda kota, tsunami menyapu pulau, dan letusan gunung membakar dan mengubur hidup-hidup manusia di sekitarnya.

Tak lama sebelum kabar bencana tersebut memenuhi media tanah Air dan mancanegara, negara kita telah menjadi pengekspor utama berita buruk. Korupsi, mafia hukum, legislator yang hobinya plesiran dan bangun gedung di saat rakyatnya kelaparan, adalah gambaran umum media mengenai kondisi Indonesia hari ini. Tak lupa, kita masih bisa ingat beberapa musibah akibat tangan-tangan jahil manusia sendiri, lumpur meluap, pesawat jatuh, tanggul bocor menyapu warga yang sedang tidur, dan lain sebagainya.

Entah karena prinsip dunia media dimana bad thing is a good thing, atau karena memang itulah apa adanya negeri kita beberapa tahun terakhir. Satu hal yang harus kita yakini adalah, bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al-Insyirah: 6), setiap musibah pasti membawa hikmah. Dan sungguh maha benar Allah SWT dengan firman-Nya, Bisa jadi Kamu membenci sesuatu yang justru baik buat Kamu (Al-Baqarah: 216).

Pernahkah kita sadari bahwa setiap bencana, baik yang berupa fenomena alam, ataupun bencana moral, sosial, ekonomi adalah suatu proses perubahan menuju sesuatu yang baru. Keserakahan sebagian manusia menyebabkan luka dan kesengsaraan. Dan pada akhirnya hanya akan dua hasil, luka itu akan menutup atau sebaliknya, membesar dan membunuh kehidupan seluruhnya.

Terlepas dari sistem apa yang membuat kehidupan kita tersesat seperti sekarang ini, kita, sebagai individu yang diberi kesadaran oleh Allah, selalu bisa melawan. Sebagaimana sel-sel dalam tubuh yang dapat menyembuhkan luka dan infeksi, adalah tugas kita untuk melawan di saat kritis, atau kita akan tergilas seluruhnya. Satu bagian tubuh yang terluka berarti seluruh tubuh yang sakit. Setiap komponen dari bangsa melakukan tugasnya, menolong mereka yang ditimpa kesulitan, dan terus bekerja untuk menjadikan bangsa kita menjadi entitas yang kuat-bermartabat.

Terakhir, tidakkah kita menyadari bahwa hidup ini sendiri sudah merupakan berkah dari Allah. Peristiwa penciptaan alam semesta, penciptaan manusia di dalam rahim ibu, berlayarnya kapal karena angin, hewan ternak dan lebah yang memberi manfaat, dan segala keteraturan di alam ini adalah bukti kasih sayang Allah terhadap manusia. Dan janganlah kita lupa akan pendeknya nikmat di dunia..

(wallahu alam bi shawwab)


TAGS banjir wasior tsunami mentawai merapi meletus tragedy musibah


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post