Naik-naik ke Bukhan gunung..

30 May 2010

see english version

Sebenernya sudah pengen dari dulu2, tapi akhirnya baru sekarang ini bisa naik gunung di Korea…

Sebelum acara naik gunung ini berlangsung, saya sering melihat yang namanya orang Korea, terutama orang tua2, memakai perlengkapan naik gunung. Entah itu berupa tas, tongkat, atau sepatu untuk naik gunung, mudah dijumpai ketika kita naik subway di hari libur. Pernah sesekali, ketika saya sedang main ke SNU (Seoul National University), saya melihat ada beberapa orang yang sudah cukup berumur, memakai perlengkapan untuk naik gunung, dan terlihat mulai menaiki bukit2 yang ada di SNU (FYI, SNU adalah kampus yang penuh dengan bukit/gunung). Sedikit heran, tapi saya belum menganggap serius hobi naik gunung orang Korea ini.

Sampai akhirnya… [9 Mei 2010]

Saya, Ardy (Yonsei), Widita (KU), dan Sung-Hyeon (Yonsei) memutuskan untuk menaiki BukhanSan (???) atau gunung Bukhan. “San” (?) berarti gunung dalam bahasa Korea.

No Big Deal!!

Dari informasi yang saya dapat, gunung di Korea relatif pendek (dibandingkan dengan di Indonesia), yang paling tinggi adalah HallaSan (???), 1950 meter d.a.p.l., yang terletak di JejuDo (???) atau pulau Jeju. Itu pun kata Widita, trail(jalur)nya tidak menantang, mudah dilalui dengan berjalan kaki, dan gak bikin capek. Entah memang gunungnya, atau satu jalur yang dilalui teman saya itu yang sangat ringan.. Dan dalam pikiran saya, BukhanSan yang tingginya hanya 837 meter, pasti sama sekali tidak melelahkan/menakutkan untuk didaki.

Perjalanan dimulai dari ???? “stasiun Gupabhal” di line 3, Seoul Metro Subway, kami berempat bertemu di pintu “Yok” (?) dan saling membuka pembicaraan. Hari yang baik untuk mendaki, langit cukup cerah, dan tidak terlalu panas. [Aaah, indahnya musim semi!] Dari Yok masih cukup jauh untuk sampai ke kaki gunung, oleh karena itu kami pergi untuk mengantri bis. Dan ternyata, ya oloh, antrian untuk naik bisnya panjang banget!! (mungkin ada 60 meter). Sebenarnya dari masih di dalam subway pun sudah terlihat banyak orang berperlengkapan untuk naik gunung, dan tak dinyana di luar GuphabalYok, mereka semua berkumpul untuk naik ke BukhanSan. Berhubung kami sudah tidak sabaran ingin cepat2 bisa naik, akhirnya kami pilih untuk naik taksi..

>> selepas dari taksi >>

Tak disangka, daerah start pendakian, penuh dengan kendaraan dan orang2. Tempat parkir yang begitu besar terisi penuh oleh mobil2 pribadi, bahkan sedang dibangun tempat parkir baru dan juga convenient store. [hmm.. mulai berpikir sesuatu].

Perjalanan mendaki dimulai jam 9:20. Alam di kaki gunung sangat indah, dipenuhi sungai-sungai dengan batu-batunya dan juga bunga-bunga cherry blossom (bekennya, bunga sakura) di sekitarnya. Terlihat juga ada warung “kopi” (tapi kalau di sini sering jualnya alkohol kali ya :p) untuk para pendaki kongkow2, mirip kayak di Indonesia.

warung "kopi"

Kalau alam di kaki gunung sangat indah, maka alam di atasnya lebih eksotis. Iya, hutan dengan pepohonan subtropis (beberapa dengan cherry blossom) dan diiringi batu-batu gunung raksasa yang sangat mudah dijumpai di kiri/kanan jalur (seingat saya gunung2 di Indonesia tidak sebanyak ini ada batu2 kali raksasanya). Burung2 hitam besar (seperti gagak, tapi entah apa namanya..) terbang di antara pepohonan biro, palem sirih dan juga cedar..

Dalam perjalanan ke atas, banyak sekelompok orang, baik tua (let say, umur 50 tahunan) ataupun muda (belasan atau dua puluh tahunan), rekan ataupun keluarga, berjalan bersama-sama. Meskipun mukanya terlihat lelah, mereka terlihat menikmati perjalanan. Tak jarang pula, saya menemukan sekelompok orang beristirahat di tempat-tempat yang luas dan landai. Kami sendiri hanya sekali duduk beristirahat dalam perjalanan menuju puncak.

Orang Korea selalu mengutamakan safety. Tanpa mengurangi keasyikan para pendaki, mereka menyiapkan tali-tali pembatas, baja maupun tambang, dan juga petunjuk2, baik arah ataupun tanda bahaya, di sepanjang jalan. Kenapa tak mengurangi keasyikan? karena tantangan/kesulitan pendakian tidak berkurang dengan adanya alat-alat keamanan tersebut, yang ada hanyalah contigency plan dan juga preventif apabila kita terjatuh atau tersesat.

Semakin mendekati puncak, semakin banyak tali-tali pengaman yang tersedia di jalur2 yang bertepikan jurang. Pemandangan menuju puncak semakin didominasi oleh bebatuan (emang batu semua!) Cadaass men!! Dan yang tak disangka, ternyata banyak sekali orang2 tua (bolehlah disebut kakek dan nenek, aki jeung nini) yang sudah sampai di situ sebelum kami. Di sisi lain, kita bisa melihat orang2 sedang memanjat tebing, dan ajaibnya.. ajuma2 (ibu2 berumur kira2 40-50 tahunan) banyak yang berani manjat tebing (meskipun terlihat naik dengan perlahan dan susah payah)

Dan akhirnya.. (meskipun banyak berhenti moto2) pukul 11:40, saya sampai di puncak.. senangnyaaa.. ^^)/

Tapi (haha) ga bener2 puncak sih, yang lain sih sudah pada megang puncak, tapi saya sendiri baru di tempat kira2 20 meter lagi dari puncak. Dan di situ, kita makan siang… dan saya (seperti biasa) teteup.. moto2 ^^ (dan makan jugalah!). Oya, perihal bekal makan siangnya hanya one man girl show, si Widita.. (hehe.. ?????..)

Ini pertama kalinya saya melihat beraneka ragam orang, ada mama, ada papa, ada nenek,ada kakek, ada aa, ada teteh (semua masuk tarik mang), teman2 sejawat, pasangan tua dan muda semuanya numplek di puncak gunung..

Dan akhirnya saya menyambangi puncak yang tinggal sejengkal itu.. [Sung-hyeon malas naik lagi, soalnya banyak serangga di atas]

baru kali ini juga, ada puncak batu yang penuh dengan serangga.. (untung kecil2, jadi ga kelihatan di foto..)

Cukup beristirahat, jam 13 pas kami pun mulai turun. Kata mbah Ardy, si pecinta gunung sejati (ga bisa liat gunung, pasti dinaikin), jalan turun lebih sulit daripada naik (Ooo..). Okelah, pokoknya turun dulu! Sedikit perjalanan turun saya jalani, dan embeer (memang bener) lebih susah! Dan si Sung-hyeon bisa cepet banget turunnya (dasar orang korea! hehe..)

Dan atas usulan si mbah Gunung, kami pun memilih rute lain untuk pulang (biar puas, ceritanya). Pemandangan-pemandangan indah tak habis2nya muncul di depan mataku. Tak cuma alam yang indah, benteng, gerbang besar, helipad, dan juga shelter peristirahatan yang bersih, menambah kepuasan mata saya atas apa yang bisa dilihat. [dan rasa capek itu tergantikan oleh kesenangan..]

Dan sekitar pukul 14:20, ternyata kami nyasar.. (hadoh, baru nyadar!) [haha.. panjang dah ceritanya]

Bukannya turun gunung, kami malahan “harus” naik gunung lagi (belakangan diketahui namanya SamgakSan). Dan yang satu ini, jauh lebih terjal, dan dari jauh terlihat tidak ada alat-alat pengaman (???..). Namun berhubung untuk kembali ke jalan yang benar juga cukup jauh, dan pastinya bosan banget kalau harus balik lagi, jadi sekalian aja yang salah dijadiin bener, alias ikan pari, ikan cucut.. lanjuut..!!




Dan akhirnya, alhamdulillah masih hidup! (lebay).. Kira2 pukul 15:20, kami benar2 turun gunung (baca: jalan pulang)… Dalam perjalanan turun, saya kerap melihat para pendaki biasa, tua dan muda (bukan petugas!) membawa capit besi dan juga kantong kresek besar. Tak dinyana, mereka turun sambil mengumpulkan sampah2 yang mereka temui di sepanjang jalan. (?_?) baik sekaliii… Itu baru namanya pecinta alam sejati! Mantaplah orang Korea! Bukan cuma hobi tradisi naik gunungnya aja yang banyak manfaatnya, tapi mereka juga memelihara alamnya dengan baik.. =)

~baca juga: It’s the climb…


TAGS cinta alam pecinta alam orang korea cinta alam gunung hiking catatan pendakian BukhanSan SamgakSan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post