Negosiasi dan Argumentasi (part 1) *hikmah dari film “Thank You for Smoking”

24 May 2009

Pertamax, gua bukan tukang debat. Gua gak suka buang2 waktu untuk memperdebatkan hal2 yang kurang ada gunanya.. Dan oleh karena itu, gua bukan seorang ahli debat..

Kedua, gua suka ngelobi. Inti dari melobi adalah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Namun di dalam proses melobi (proses untuk mendapatkan yg kita inginkan), kita harus dapat menyampaikan inspirasi dan solusi, untuk menjawab apa yang orang lain butuhkan.

Ketiga, Gua juga suka berdiskusi, I love discussion. Diskusi itu konstruktif, dari diskusi kita mengumpulkan ide2 dan gagasan2 yang pada akhirnya melahirkan keputusan yang biasanya akan mudah untuk diterima dan dijalankan bersama.

Keempat, Gua yakin kalian semua sudah tahu dan bahkan mempraktekkan, bahwa yang namanya ngelobi itu kudu pake argumentasi. Tapi mungkin kalian akan semakin ‘ngeh Perbedaan2 Nyata antara argumentasi dan negosiasi setelah nonton film “Thank You for Smoking”.

Kelimax, inilah insights (warning: bukan sinopsis ya) dari film tersebut:


Argumentasi itu kuat dan tajam, tujuannya adalah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Negosiasi itu lembut, tujuannya adalah untuk menjembatani kepentingan berbagai pihak, dan juga untuk menemukan ide2(solusi) baru..

Kita sering tidak sadar bahwa kita sedang bernegosiasi (bukan berargumentasi), sehingga kita kalah dalam lobi/forum, dan gagal dalam mendapatkan apa yang kita (pribadi) inginkan. *Film ini menunjukkan kesalahan banyak orang, yaitu bernegosiasi ketika memperjuangkan apa yang mereka (pribadi) inginkan. Dalam film dengan jelas diperlihatkan bahwa hasil yang kita dapatkan dengan berargumentasi akan jauh berbeda, ketimbang kita sekedar bernegosiasi.

Di sisi lain, film ini juga menunjukkan bahwa kita memerlukan negosiasi. Andaikata kita jago berargumentasi dan selalu menang, mendapatkan yg kita inginkan, dan juga selalu mematahkan keinginan dan kepentingan orang lain, maka (percayalah*) one way or another kita juga dapat dirugikan daripadanya..

Kita bisa selalu menang di dalam forum2 (seperti di meja hijau, diskusi, talkshow, public hearing, debat, dsb.), namun.. Akumulasi kebencian dari orang2 yang kepentingannya jarang diakomodir, tertindas/dipojokkan, dapat menyerang balik ke diri kita. Dampak2nya adalah pemberitaan negatif (fitnah, sas-sus, spam, dsb), demo, pemboikotan, perusakan, pencurian, dan banyak lagi masalah sosial lainnya. Dan itu semua apabila tidak diantisipasi, dapat menimbulkan cost yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang kita dapatkan di dalam forum2 resmi.

Coba kita perhatikan, bahwa di dalam setiap “penjahat”2 besar (lihat TV: politikus, pebisnis, industri, koruptor, atau bahkan artis), di saat yang bersamaan kita juga akan melihat robinhood2 dan “pahlawan”2..

Contohnya adalah perusahaan rokok. Mereka berargumentasi bahwa industri rokok menyetor pendapatan (pajak) yang besar untuk negara, dan mampu menyerap banyak lapangan kerja. *masih banyak lagi argumentasi perusahaan rokok di dalam film ini* Namun apakah argumen2 itu cukup membuat perusahaan rokok tetap bertahan di tengah tekanan2 masyarakat yang telah tahu bahaya dan kerugian yang ditimbulkan rokok? Jelas tidak..

Oleh karena itu, di saat yang bersamaan, perusahaan rokok juga bernegosiasi dengan masyarakat, yakni dengan cara menyetujui larangan anak2 untuk merokok, secara aktif memberikan beasiswa2, dan melaksanakan berbagai macam bentuk CSR lainnya.. *memang perusahaan rokok bisa menang (bertahan) dengan argumentasi2nya, namun bagaimanapun setiap orang/pihak yang “memaksakan kebenaran” tetap harus mau berkorban(bernegosiasi) banyak untuk tujuan itu.

Dan sering juga kita lihat di film2 ada istilah good cop and bad cop. Bad cop bertugas untuk memaksa (dengan argumentasi hukuman2 penjara + siksaan :p) agar penjahat mau bicara/mengaku, sedangkan good cop tugasnya adalah bernegosiasi dengan si penjahat, menawarkan keringanan hukuman bagi si penjahat, dan juga keselamatan diri penjahat dari si bad cop.

Sekarang, kita sudah paham perbedaan konsep, tujuan, dan penggunaan (kebutuhan) dari Negosiasi dan Argumentasi..

Dan, untuk perbedaan teknis (penggunaan kata, alur dan logika antar kalimat) di antara keduanya,,, akan disambung lagi di part II…

*cuplikan dari part II: “percayalah” adalah contoh kata yang digunakan dalam bernegosiasi. Dengan menggunakan kata “percayalah “, kita tidak sedang membuktikan apapun, kita hanya memberikan kepercayaan, bukan suatu hal yang kongkrit.

~doainGuaBeneranNulisPartIInya ya! :D


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post