April 4, 2012
I’m getting married
Pernikahan, Amanah baru…
Bismillahirahmnirrahiim…
cekidot weddsitenya di sini.
Filed by hasrule at April 4th, 2012 under Quote me :), Summer, my life and tagged weddsite
No comments on this post yet
Navigation | Learn from Korea!
Pernikahan, Amanah baru…
Bismillahirahmnirrahiim…
cekidot weddsitenya di sini.
Filed by hasrule at April 4th, 2012 under Quote me :), Summer, my life and tagged weddsite
No comments on this post yet
UT
Awalnya, saya kira yang namanya ngurusin sesuatu itu membosankan, ngerepotin, pokoknya ga asik deh..
UT
Sippo, orang ini adalah yang pertama mengajak saya untuk ikut membantu Universitas Terbuka (UT) di Korea. Awalnya saya juga tidak tahu apa itu UT (Universitas Terbuka, googling…). Namun berhubung Mr. Sippo ini adalah salah satu walkmate saya. Dan dia juga punya kamera Canon yang lensanya ada ring merahnya (hope you know what i mean), saya sering sulit untuk menolak ajakan dia :p. Selain itu, emak aye selalu ngajarin supaya saya jadi orang yang bermanfaat. Dan akhirnya sayapun datang pada rapat pertama UT, bertempat di sebuah kafe di depan kedutaan tercinta.
Awalnya saya tidak begitu mengenal Habu. Sebelumnya, saya kenal Habu hanya sebagai “objek penderita” di tengah2 anak2 Konkuk yang (waktu itu) terkenal rada2 ga normal. Rapat itu adalah pertama kalinya saya duduk semeja bersama Habu. Ternyata bung Habu ini sangat mudah untuk dipahami ketika sedang berbicara to the point. Beliau dengan cerdas dan tangkas menjelaskan apa itu UT, untuk apa ada UT di Korea, sejarah persiapannya, dan terakhir beliau menjelaskan bahwa dalam waktu dekat akan datang pejabat UT dari Jakarta untuk meluncurkan UT di Korea. Namun uniknya, sekalinya Habu berbicara tidak to the point, tak ada satupun orang yang dapat menangkap maksud dari pembicaraannya (ups.. :p). Singkat cerita, saat itu Habu butuh tim untuk mendampingi para pejabat UT yang akan datang, sekaligus untuk mempersiapkan acara sosialisasi kehadiran UT di Korea. (Belakangan diketahui, bos Habu ini adalah seorang pemimpin sejati. Energinya untuk UT Korea nyaris tak terbatas karena bersumber dari hati yang paling dalam. All hail Bu.. *Buuu!! :p)
Sebagai anggota komisi jalan-jalan (meskipun belum sehebat anggota DPR-RI jalan2nya), saya selalu mengajak handai taulan ke acara jalan2 saya. Namun kalau dipikir2 urusan ini beda, ini adalah kegiatan yang maslahat, butuh tenaga dan pikiran. Kalau acara jalan2 itu jelas, tujuannya having fun! Namun kegiatan sosial begini agak beda, fun-nya belum tentu, tapi ribet2nya jelas… (hmm) Tapi apalah salahnya mencoba, jadilah saya ajak beberapa teman untuk ikut membantu, salah satunya adalah mbak Dora. Selain mengajak teman2, saya juga bertemu dengan teman2 baru di sini, salah satunya bernama Miss T. “Senang rasanya bisa berkumpul dengan teman2 ^^” (Sebetulnya masih ada yang lainnya, namun teman2 yang saya sebut di atas adalah orang2 spesial yang secara konsisten mengurus UT, dari saat sebelum UT di Korea diluncurkan, hingga detik ini, sudah memiliki ratusan mahasiswa.)
Dan tim persiapan itu akhirnya berganti baju menjadi pengurus UT (jeng3x… berubah!!!), beberapa fungsi-pun segera disiapkan untuk menangani bagian-bagian yang dianggap penting dalam keseharian UT di Korea.
Dan waktupun berlalu, kami (pengurus UT) menjalin komunikasi dengan para calon mahasiswa, melakukan pendataan, pendaftaran, packaging dan forwarding berkas pendaftaran dari berbagai daerah di Korea ke Jakarta, dan sebaliknya forwarding modul/dokumen dari Jakarta ke berbagai daerah di Korea. Pengurus sangat dibantu oleh adanya koordinator2 dari kalangan mahasiswa UT sendiri. Tanpa adanya mereka, akan sangat sulit bagi pengurus untuk menyebarkan informasi, modul2, dan kegiatan2 koordinasi lainnya. Selain bekerjasama dengan para koordinator, pengurus UT juga memiliki corong informasi kepada mahasiswa yakni melalui web, fesbuk dan milis.
Meskipun sudah memiliki banyak channel komunikasi, namun tetap saja mahasiswa UT seringkali lebih mengandalkan pengurus sebagai sumber informasi, tempat pertanyaan dan juga keluhan. Fungsi-fungsi yang berhubungan langsung dengan mahasiswa, seperti humas, pembayaran, dan kemahasiswaan (awalnya masih ditangani oleh bos besar Habu) bisa mendapatkan telepon/sms tiba2 pada waktu yang tak diduga. Meskipun sudah disarankan untuk hanya mengontak pada malam hari, ada kalanya panggilan itu datang pada siang hari. Dan sekalipun sudah benar panggilan tersebut datang di luar jam kerja, telepon ajaib tersebut bisa datang pada saat sebelum tidur, sedang tidur, ataupun ketika baru bangun tidur (”hooh... iya… halo..??“).
Tutor adalah ujung tombak kualitas pendidikan UT. Meskipun UT pusat memiliki sistem tutorial online berikut dengan materi2 pembelajaran dan soal2 latihannya, namun tutor adalah kunci yang menjadikan mahasiswa UT sebagai mahasiswa. Tutor2 di UT Korea adalah invidu2 terpilih yang memiliki kecerdasan dan dituntut memiliki kemampuan berbagi yang tinggi. Mereka dituntut untuk membangkitkan semangat belajar mahasiswa yang notabene fokus utamanya bukan untuk belajar. Sangat sulit… (>,<). Namun ajaib, mereka bisa! Mereka bisa membuat para mahasiswa UT memiliki semangat belajar, bertanggung jawab atas tugas2 mereka, dan juga merangsang para mahasiswa ini untuk berpikir analitis, kreatif, dan berinteraksi selayaknya mahasiswa pada umumnya.
Ada satu alasan kenapa kualitas tutorial di UT Korea bisa terjaga. Aktivitas paling rutin di kepengurusan UT Korea adalah evaluasi akademik. Di rapat ini, para tutor, koordinator tutor dan rektor UT Korea (bos Habu emang paling rajin!) berkumpul via Skype untuk membahas kondisi tutorial tatap muka. Seorang tutor bercerita tentang kondisi di kelasnya, didengar oleh tutor yang lain, dan kendala tersebut dicoba diselesaikan bersama2. Meskipun ini bukan ajang yang wajib diikuti oleh pengurus yang lain, namun pengurus2 lain seringkali ikutan nimbrung untuk sekedar mengetahui hal2 menarik apa yang terjadi di dalam kelas. Selain untuk evaluasi, rapat2 semacam ini juga dijadikan ajang silaturahim, hiburan, dan lucu2an di sela2 kesibukan para pengurus dan tutor sebagai mahasiswa/anak lab.
Dengan kombinasi pengurus dan tutor yang unik namun tetap solid (Amin!), kepengurusan UT Korea berlangsung seru dan tidak membosankan.
“Pictures could say more than thousand words“,
“no pic/vid = hoax!”,
dan fun adalah kata yang sulit untuk dijelaskan. Saya tidak akan berpanjang-lebar bercerita tentang hal ini. Berikut ini adalah cuplikan momen dan peristiwa yang saya anggap masih share-able (@teman2 pengurus: ini boleh kan dishare? H: Boleeeeh… ;)) dari balik layar kepengurusan UT Korea. Jadi, lihat sendiri aja…
Setelah dokumen dipilah-pilah sesuai dengan tujuannya, dokumen tersebut kami bawa dari KBRI menuju kantor pos untuk selanjutnya dikirimkan ke wilayah-wilayah. Tak jarang kami langsung berekreasi setelah kegiatan ini ^^
UT
Dengan UT, bisa saya bantu…*
*. kalimat di hati, bukan di mulut
Filed by hasrule at May 9th, 2011 under Indonesia, Korea, my life and tagged organisasi, pendidikan, utkorea
4 persons have commented this post
?

oleh: Hasrul Ma’ruf
Baru-baru ini negeri kita dihebohkan oleh film “?”. Film “?” atau tanda tanya adalah sebuah film yang diklaim oleh pembuatnya dapat mencerdaskan pemahaman tentang pluralisme dan toleransi masyarakat di tanah air. Apakah sebuah “?” dapat melakukan proses dengan hasil yang sama untuk semua targetnya? Semua orang bebas mengeluarkan klaim, namun kondisi di lapangan bisa berkata lain.
Pendidikan adalah nomina dari kata dasarnya “didik”. Didik atau mendidik menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan. Pendidikan “?” adalah sebuah konsep apabila pendidikan dijadikan sebagai sebuah kotak hitam atau black box. Jika pendidikan disederhanakan sebagai sebuah kotak hitam, maka sebuah objek pendidikan apabila dimasukkan ke dalam kotak hitam bernama “pendidikan” seyogyanya akan keluar sebagai sesuatu yang lebih cerdas.

Namun objek pendidikan adalah manusia, bukan benda. Manusia tidak sesederhana bijih besi yang bisa mudah dicairkan, dikomposisikan dengan zat-zat tertentu, lalu dituang ke dalam mesin cetak untuk kemudian dijadikan plat baja yang ukurannya standar. Peserta didik juga bukan kacang mentah yang bisa dengan mudah dilapis, diberi bumbu, dan digoreng, untuk menjadi kacang atom yang lezat. Manusia adalah objek yang sangat kompleks. Teori kecerdasan majemuk oleh Robert Slavin, menyebutkan manusia memiliki 8 kecerdasan, mulai dari kecerdasan bahasa, kecerdasan logika-matematik, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.
Dengan kompleksnya entitas bernama manusia, jelaslah apabila pendidikan adalah sebuah kotak hitam, maka kotak hitam pendidikan adalah sebuah sistem yang kompleks. Sebagaimana halnya mesin penjual otomatis yang bisa menerima uang kertas, koin, dan T-money (Korea, red.) akan lebih canggih daripada mesin yang hanya bisa menerima koin, sistem pendidikan yang menerima beraneka ragam jenis manusia juga tidak bisa sederhana. Kita bisa bayangkan apa jadinya apabila kotak hitam atau “?” sederhana yang hanya bisa menerima koin, dipaksakan untuk menerima uang kertas. Oleh karena itu, sulit halnya apabila kita melihat sebuah pendidikan sebagai kotak hitam atau “?”. Tantangan pendidikan yang sedemikian sulit mengharuskan kita semua yang peduli terhadap pendidikan, melihat pendidikan sebagai kotak kaca atau glassbox, yang segala sesuatunya terlihat jelas dari luar.
Sebagai sesuatu yang tidak “?”, sistem pendidikan harus terbuka terhadap semua stakeholder-nya. Baik pihak-pihak yang terlibat langsung di dalamnya seperti guru dan murid, maupun pihak-pihak di luar seperti orang tua, pemerintah dan masyarakat, harus memiliki hak yang sama dalam memperbaiki sistem bernama pendidikan ini. Jadi, meskipun pemerintah adalah pengendali dari sistem pendidikan nasional, namun suara-suara dari guru, murid, orang tua, para pakar, dan masyarakat tidak bisa diabaikan begitu saja.
UN atau ujian nasional adalah contoh kecilnya. Pemerintah bermaksud baik untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan kecerdasan logika-matematik warganya dengan cara menaikan standar kelulusan dalam UN, setiap tahunnya. Kecerdasan berbahasa dan logika-matematik memang dua kecerdasan yang paling dianak-emaskan di dunia, sampai-sampai mereka berdua digabungkan dalam sebuah brand khusus bernama IQ. Tidak dapat dipungkiri, emas adalah sesuatu yang sesuatu diakui sebagai emas oleh kebanyakan. Penulis memahami bahwa pemerintah sedang berusaha membuat emas. Namun menurut penulis, standar kelulusan UN ini terlalu keras. Predikat kelulusan adalah sesuatu yang sangat serius, dan bahkan ditakuti oleh para siswa, seperti halnya algojo, “Apabila lolos darinya, saya selamat. Apabila tidak lulus, maka hidup saya berakhir di situ.”
Hadiah dan hukuman memang bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan. Namun hal itu tidak ada artinya apabila hal tersebut jauh dari prinsip-prinsip keadilan. Di Indonesia, ada daerah yang sudah lama terbebas dari buta huruf, dan ada daerah lain yang baru saja meningkatkan tingkat literacy rate-nya. Apakah pantas sebuah sistem algojo yang sama diberikan kepada entitas-entitas yang sangat berbeda kualitasnya? Tak heran apabila Mahkamah Konstitusi mengatakan UN melanggar HAM siswa, dan memberi catatan bahwa pemerintah harus terlebih dahulu memperbaiki kualitas pendidikan di daerah-daerah untuk memberlakukan UN sebagian standar kelulusan.
Bhinneka Tunggal Ika, persatuan dalam keberagaman, persatuan di sini tentunya adalah cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi, negeri yang subur, makmur dan rakyatnya sejahtera. Indonesia dijuluki sebagai negeri dengan seribu wajah, suatu negeri yang sangat tinggi tingkat keberagamannya. Apakah standar kecerdasan berbahasa dan logika-matematik menjadi satu-satunya cara untuk menjadi rakyat Indonesia yang beraneka ragam menjadi makmur dan sejahtera? Apa yang perlu kita lakukan agar pendidikan dapat mencerdaskan bangsa kita yang majemuk dan pada akhirnya membawa kemakmuran bagi kita semua?
Penulis yakin jawabannya tidak hanya satu. Kita sudah melihat bahwa pendidikan dapat dimulai dalam bentuk apapun. Pendidikan dimulai dari rumah, yakni interaksi orang tua dengan anaknya. Pendidikan bisa beratapkan sebuah warung nasi semi permanen, garasi, ataupun kubah kecil musholla yang berada di tengah sawah. Bahkan dalam kondisi sedang mencari sesuap nasi dan segenggam berlian di negeri ginseng, pendidikan tinggi masih dapat dienyam dengan adanya Universitas Terbuka. Pelatihan kewirausahaan dapat memberikan kursus singkat tentang ilmu manajemen sebuah kegiatan usaha, dan membangkitkan potensi seseorang untuk terus berjuang. Pendidikan adalah hak semua orang, tak peduli betapapun termarjinalkannya individu tersebut. Mari kita semua bertanya dengan “?”. Mari terlibat ke dalam kotak kaca pendidikan, dan ikut berkontribusi mulai dari sekarang.
Selamat hari pendidikan Nasional.
Filed by hasrule at May 2nd, 2011 under Indonesia, hasrule.edu, opini opinion and tagged pendidikan, utkorea
2 persons have commented this post
Improvement is created by disturbing something then turns it into a new order…
So, I had things to disturb then ^^…

Filed by hasrule at March 23rd, 2011 under Quote me :) and tagged improvement
No comments on this post yet
… Kita berangkat sebelum pukul 8 pagi, melewati satu shelter, dan akhirnya pada pukul 10.15,
Summit attack!!
..itu istilah bekennya untuk kita nyampe (menyerbu) puncak. Perasaan bahagia memenuhi dada. Syukur alhamdulillah angin winter pada saat itu ga terlalu terasa, sehingga kita bisa menikmati suasana puncak dengan tenang. Gua masih inget kisah naik gunung sebelumnya, summit attack jam 7 pagi di Seoraksan. Keren sih kita bisa ngelihat sunrise dari pantai timur Korea. Tapi suhu dingin dan angiiin super kencang membuat kita ga betah lama2 berada di puncak, bawaannya mau cepet2 pergi, untuk foto2pun jadi sulit karena ketika angin berhembus kita tertelan awan kabut es (heran, padahal waktu itu masih fall).
Kurang lebih hanya 15 menit kita beristirahat dan foto2 di . Dan untuk pertama kalinya, Ardy minta difoto (bukti sudah menaklukan satu gunung lagi :D). Guapun meminta bantuan seorang Ajosshi untuk ngambilin foto gua berdua sama Ardy di prasasti puncak CheonwangBong 1915 m (^_^)V.
Semenjak hari kedua, gua udah pake geiter. Itu loh alat yg untuk nutupin betis dan diikat ke bawah sepatu, fungsinya agar salju ga masuk ke sepatu dan celana. Sedangkan Ardy sama sekali ga make geiternya (padahal bawa). Pas gua ngajak dia untuk make, dia bilang “ya lu pake aja, gua sih enggak”. Dia bilang gua sering masuk2 ke salju. Yak betul sekali! Ada dua alasan kenapa gua sering masuk ke salju, pertama adalah karena gua emang sering jalan cepet2, dan kedua adalah gua sering jalan sambil ngangkat kamera atau ngerekam video di HP. Dengan kata lain, kadang gua ga peduli apa yang akan gua pijak (selama ga ada jurang ye :p). Ya akhirnya gua doang yang make geiter. Dan syukurlah gua pake geiter, karena ternyata di hari kedua gua makin sering masuk ke salju secara sengaja untuk mengambil gambar dari angle2 yang bagus.
Naik gunung di Korea memang terlihat mudah. Di dalam foto, kita bisa lihat banyak jalur di gunung yang sudah difasilitasi, misalnya dikasih rambu, tali, tangga, dsb. Itu memang benar adanya tapi winter hiking beda! Jalur2 yang tadinya jelas sering absurd karena tertutup salju (pegangan tangga aja bisa tertutup sempurna). Jadi kita cukup sering menemukan jalan setapak yang bercabang, kita ikuti salah satunya dan ternyata buntu (mungkin awalnya ada satu orang yang nyasar, terus dua, tiga, empat, dst, sehingga jalan setapak itu semakin jelas). Satu hal yang paling menarik dari perjalanan ini adalah kita jadi belajar membedakan jejak kaki.
Selepas dari puncak Cheongwangbong, kami menuju ke 1 shelter terakhir sebelum ke arah pulang. Bagi yang belum tahu, taman nasional Jirisan ini adalah pegunungan. Jalan sesudah dan setelah puncak Cheongwangbong melalui banyak puncak, yang mana ketinggian dan kecuramannya 11-12 sama Cheonwangbong. Meskipun kita jalan bukan pas lagi dingin2nya winter, tapi tetep aja yang namanya puncak gunung itu selalu terselimuti oleh salju. Dan masalahnya adalah,
Filed by hasrule at February 13th, 2011 under Quote me :), Winter, my life, weguk saram imnida! and tagged jirisan, naik gunung, winter hiking
10 persons have commented this post
Pas hari kedua ini, pola jalan kita mulai berubah. Pada awal perjalanan di hari pertama, Ardy selalu nungguin gua. Selama gua ga keliatan dia ga akan jalan, atau nungguin. Secara gua suka ngilang bwt foto2 ga jelas, jadi gua rada lama di jalan. Ardy adalah tipikal guide sejati, dia emang terkenal sabar banget nungguin orang. Kayaknya untuk orang seperti Ardy, naik gunung itu bukan lagi tantangan. Tantangan bwt dia sebenernya adalah bikin orang lain (baca: semua orang) bisa naik gunung, dan ngerasain yang namanya sampe puncak gunung. Tapi menjelang gelap (lihat: jalan hari pertama), karena gua udah ga foto2 lagi (gelap2 mau moto apa) dan juga beban berat tasnya Ardy, gua yang sering berada di depan. Di situasi itu gua yang nungguin dia. Mbah gunung juga manusia, serem aja kalau ninggal2in (baca: jalan sendiri2) orang di situasi begitu.
Di hari kedua pola jalan baru mulai terbentuk. Ardy masih lebih sering jalan di depan. Tapi kadang gua yang di depan. Gua bukan tipikal orang yang suka nunggu2in, terutama kalau gua anggap orangnya mampu dan mandiri untuk jalan sendiri (gua rasa Ardy masuk kategori ini). Dikarenakan aktivitas fotografi dan kelincahan gua (tas gua jauh lebih enteng dibandingkan Ardy), agar waktunya lebih efisien kita jalan sendiri2, ga main tunggu2an. Tapi tetep pada akhirnya secara ga disengaja akhirnya kayak tunggu2an juga. Misalnya gua jalan duluan di depan, pasti ada aja tempat indah dimana gua berhenti bwt moto2. Kalau gua ketinggalan, tar gua bisa jalan cepet (bahkan berlari) untuk ngejar si Mbah. Tapi biarpun begitu yang namanya tunggu2an masih tetep ada. Ardy udah gua minta untuk ga nungguin gua (secara gua bisa gerak cepet), tapi kita masih sadarlah kalau gimanapun kita tuh naik gunung ini berdua.
Setelah solat, masak, sarapan, kamipun berangkat kira2 pukul 9 lewat 10. Target perjalanan kami adalah mencapai 3 shelter di depan, atau shelter yang terletak persis sebelum puncak tertinggi di Jirisan. Pukul 10:220 kami sampai di shelter pertama. Nama shelter itu adalah Boksoryeong. Alasan kenapa nama shelter ini penting untuk diketahui adalah.. (hehe, tar dulu deh). Ardy langsung duduk melepas tas dan lelah di situ, dan gua dengan cueknya foto2 pemandangan yang bagus. Namun aktivitas foto2 itulah gua sering lupa kalau 2 termos yang isinya minuman hangat ada di gua, Ardy selalu membawa air putih (yang mana gua ga bawa), tapi bayangkan betapa nampolnya minuman hangat semacam bandrek atau teh manis di dalam keletihan dan cuaca dingin seperti itu. (Again) Sorry Bro..
Tak sampai 15 menit istirahat, kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah ke puncak tertinggi, yakni CheonwangBong (천왕봉). Namun di shelter itu tak ada panah jelas menuju cheonwangbong, yang ada hanyalah panah menuju desa DaesongRi. Dan ada pintu yang ditutup palang. Gua nanya ke seseorang, “cheonwangbong odiro gaseyo?” Orang itu lalu menunjuk2 dengan jarinya, sambil bilang “ke situ2″, dan kita menagkap petunjuk dari dia bahwa arah menuju desa itulah arah ke puncak Cheonwanbong.
Kami akhirnya mulai jalan menuju DaesongRi. Jalanan terasa ringan karena turun terus. Karena ga biasanya (turun terus), gua bilang ke Ardy,
Ini jalanan turun terus, artinya nanti kita harus naik terus.
Ardy bilang dia juga curiga ini jalan kayaknya ga bener.
Tak lama setelah itu, kami menemukan salah satu spot terindah dalam perjalanan kami, sungai es. Yang menarik dari sungai es ini, bukan hanya ada aliran air biasa yang membeku jadi es, tapi juga aliran arus cepat seperti air terjun-pun membeku jadi es, mulai dari air terjun yang tingginya hanya 20 centimeter sampai yang berukuran satu meter lebih. Detil percikan air yang biasa mewarnai air terjun kini bagaikan berhenti oleh waktu. Variasi (ukuran dan bentuk) garis air dalam air es terjun membuatnya menjadi sangat menarik. It’s simply like seeing a waterfall frozen in a fraction of time (subhanallah…)
Setelah beristirahat sebentar dan merekam es terjun ke dalam sensor kamera, kamipun melanjutkan perjalanan menuju desa yang mencurigakan ini. Sekitar 15 menit setelah es terjun, kami berpapasan dengan orang dari arah bawah. Ardy bertanya. Dan ternyata…
kita salah araaaah >,<..
Ini desa ya benar2 desa, alias itu jalan adalah jalan pulang ke peradaban, ga ada puncak, ga ada ojek (di Korea mana ada ojek! :p). Subhanallah, dan kamipun kembali lagi ke Boksoryeong. Total 3 jam waktu yang diperlukan untuk berjalan dari Boksoryeong menuju Boksoryeong (아이구, luar biasa… sekarang tau kan kenapa ni shelter namanya penting ;)) .
Dalam perjalanan menanjak kembali menuju Boksoryeong, meskipun gua tau dia kecewa berat, Ardy tetep ngomong,
setidaknya kita jadi nemu air terjun es yang bagus itu kan!
Yo’i.., gua setuju.
Kembali ke Boksoryeong, kami akhirnya ISHOMAMA (istirahat, sholat, masak, makan) di situ. Di setiap shelter biasanya ada air bersih. Tempat untuk mengambil air kadang ga terletak di dekat bangunan shelter. Mungkin tempat air sengaja dibikin jauh supaya air ga cepat habis (orang musti pake usaha untuk ngambil air). Di Boksoryeong ini, untuk ngambil air turun ke hutan sejauh 70 meter. Badan udah capek akibat nyasar, tapi apa boleh buat air harus tetap diambil. Pas nyampe di bawah, ternyata airnya ga keluar. Reservoir air, yang gua lihat sudah tersekat cukup baik, masih ga bisa ngalahin dinginnya suhu sehingga airnya membeku. Walhasil, gua balik dengan tangan kosong.
Gimanapun juga kita tetap butuh air untuk masak. Lagi2 dapat ide karena nonton Discovery channel, akhirnya kita menggunakan salju sebagai sumber air. Satu hal yang ga sesuai ekspektasi, ternyata salju di sekitar shelter itu kotor. Badan udah terlalu capek untuk jalan kemana2 lagi. Akhirnya kita gali aja salju itu sehingga muncul salju lapisan bawahnya yang lebih bersih. Itulah yang akhirnya kita masak jadi air bersih. Selagi Ardy masak, gua solat dan wudhunya juga pake salju ^^ (enak loh).
Belajar kepada pengalaman hari sebelumnya, dan kekhawatiran akan habisnya baterai lampu senter, kami merevisi target hari itu menjadi 2 shelter sebelum Cheonwangbong, atau 1 shelter setelah Boksoryeong yang berjarak 6 kiloan dari Boksoryeong. Dan alhamdulillah, 2 shelter sebelum Cheonwangbong bisa dicapai sebelum gelap, yakni pukul 5:30 sore. Kamipun bermalam di situ. (kamipun jadi orang waras malam itu :))
Hari ketiga kami berangkat lebih pagi dari hari sebelumnya. Kita bisa tidur lebih awal karena kita sampai shelter kemarin sebelum gelap. Meskipun gua sempat terbangun beberapa kali di shelter, ngecharge hapelah, buang nasal mucus, dan juga ke belakang, tapi gua merasa cukup seger paginya (tetep so much better that first night-lah!). Kita berangkat sebelum pukul 8 pagi, melewati satu shelter, dan akhirnya pada pukul 10.15,
(bersambung… ke part 3, tamat)
Filed by hasrule at February 12th, 2011 under Winter, my life, travelling in Korea ^^, weguk saram imnida! and tagged jirisan, naik gunung, winter hiking
1 person have commented this post
Gua ga ngerti kenapa gua jadi suka naik gunung di Korea. Gua bukan anak gunung sewaktu di Indonesia, ga ikutan pecinta alam, MenWa, PMR, SAR, TNI/POLRI, apalagi jadi pecinta sesama jenis (naudzubillah…). Terakhir kali gua ngikutin yang namanya kegiatan naik gunung adalah pas SMP. Itu juga bukan karena gua suka, tapi karena wajib (waktu itu SMP gua di kaki gunung Salak, jadi sering dipaksa pulang-pergi ke puncak gunung Salak, entah u/ pramuka atau “sekedar” kegiatan olahraga). Satu hal yang bikin gua jadi pengen naik gunung kayak anak2 gunung lainnya adalah… kayaknya asyik!
Berawal dari ikut2an (kayaknya asyik), sekali, dua kali, akhirnya tiga kali gua naik gunung di Korea. Satu hal yang paling berasa ketika naik gunung, adalah kepuasan ketika mencapai puncak. Rasa lelah, capek, haus, pegal2, dsb, ketika naik, hilang seketika ketika kita sampai di puncak. Dari puncak, kita bisa melihat 360° ke segala penjuru mata angin tanpa dihalangi oleh sesuatu apapun, sungguh pemandangan yang menakjubkan dan menenangkan hati. Poin lainnya, rasa kebersamaan ketika berjuang dengan susah-payah dan mencapai sukses (puncak) bersama teman2 seperjalanan, merupakan suatu kisah yang luar biasa, dan selalu menarik untuk dikenang.
Oke, gua dah tiga kali naik gunung di Korea, BukhanSan, GwanakSan, dan SeorakSan. Lalu ada teman yang menceritakan dan mengajak untuk naik Jirisan pas winter…
Gua juga awalnya ga ngerti kenapa gua tiba2 memutuskan bahwa diri gua WAJIB naik gunung pas winter. Sebenernya ada cerita, winter yang lalu, awal tahun 2010, ada temen (di luar geng naik gunung gua) ngasih liat video pas dia dan teman2nya naik ke Taebeksan (태백산). Dalam video itu, untuk pertama kalinya gua ngelihat yang namanya dunia es. Ga kayak dunia es buatan ala Ice World di Bandung, Jakarta, atau bahkan yang paling terkenal di Harbin, RRC, dunia es di video itu 100% fenomena alam. Mulai dari daratan yang full ketutup salju, air yang membeku, bahkan sampai pohon dan ranting2nya membeku menjadi es. Bayangin lu jalan di tempat di mana pohon2nya jadi kanopi (menutupin kepala lu), nah pas winter itu kanopi ranting2 itu semuanya jadi es. Asli, Cool abisslah pokoknya, bikin mupeng… (sayang videonya ga dishare oleh ybs).
Winter tahun ini, hampir semua anak yang tadinya bilang pengen (bahkan yang nyeritain) untuk menjelajah Jirisan 3 hari 2 malam pas winter, batal, mengurungkan niatnya, atawa moal/emboh. Ada yang lagi boke, lagi pulkam, dan ada lagi alasan yang rada aneh, ada temen yang bilang naik gunung ga bikin masuk surga karena di saat yg bersamaan lagi ada mabit/taklim penting gitu (karena ustadnya spesial datang dari Indonesia). Sejenak gua berpikir, ada taklim.. dan gua sebagai mahluk sosial biasanya juga males kalau aktivitas ga rame2. Tapi hiking 3 hari ini hanya bisa waktunya ketika Seollal. Selain itu, ada satu hal yang mengganjal perasaan gua, This one particular hiking must be different!
Bismillah, akhirnya gua tetep yakin pengen berangkat. Teman setia hiking, sekaligus mentor, dan juga mbah gunung, Ardy Mustofa, langsung gua kontak. Ga peduli siapa lagi yang mau ikut, asal ni mbah mau nemenin gua, bismillahlah berangkat! Dan bener aja, mbah Ardy menyambut dengan tangan dan dompet terbuka.
Naik gunung pas winter ga sama dengan naik gunung di musim2 lainnya, harus modal peralatan khusus seperti Crampon dan Geiter. Crampon untuk mencengkram es dan salju, sehingga kita ga terpleset. Geiter untuk menutup pergelangan kaki dari salju, sehingga salju ga akan masuk ke sepatu atau celana. Kita berdua sama2 belum punya peralatan itu.
Sebagaimana buku “Hiking 101″ karangan Hasrul Ma’ruf, S.G.S, (sarjana gunung salak) peralatan gunung bisa diperoleh dengan dua cara, yaitu (1) BELI di toko, atau (2) PINJAM di teman (haha, ga penting bgt! :p). Satu-per-satu teman gua tanyain. Satu ternyata mau naik gunung juga pada waktu yang bersamaan (maklum, pas lagi musim liburan Seollal) tapi ke gunung yang lain. Satu lagi, akhirnya gua ga jadi minjem ke dia, malu, eh gengsi, hehe.. Bottom line, akhirnya gua memutuskan untuk beli juga. Mbah Ardy-pun akhirnya mempercayakan gua u/ beliin peralatannya (berhubung gua jago klak-klik, simsalabim barang nyampe).
Ardy, mungkin terlahir sebagai hiker dari ujung kaki sampe ujung rambut, nitip beliin crampon yang pro. Gua sendiri, masih dilema. Gua mungkin cuma 6 bulan lagi di Korea (atau di negeri yg memiliki 4 musim), jadi gua pikir apapun winter gears yang gua beli cuma sekali pake. Di sisi lain, gua rada takut juga kalau gua beli crampon yang ecek2 terus gua kepleset dan wallahu alam :p. Tapi alhamdulillah akhirnya gua dapat crampon yang mirip2 pro tapi harga kaki lima. Pokoknya gua dapat yang bener2 value-pricenya sama2 mantep dah!
Karena takdir, pada H-1 gua tak sengaja melewati stasiun kereta yang keesokan harinya akan gua jadikan starting point u/ naik gunung. Gua lihat sama sekali ga ada salju atau es di sekitar stasiun itu. Ramalan cuaca-pun menunjukkan suhu cukup hangat pada minggu itu, pada siang hari suhu tidak lagi di bawah nol. Hampir semua teman saya merespon cuaca “hangat” tersebut di fesbuknya dengan riang gembira. Namun gua?? sama sekali tidak.. I’m looking for my ice world!! >,<
Meskipun cuaca tidak sesuai yang diharapankan. Dan meskipun badan lelah dan tenggorokan juga hampir radang akibat tak sengaja keliling Korea (baca: nyasar) pada H-2 dan H-1. Namun janji telah diucapkan, dan Crampon+Geiter-pun sudah dibeli. So, again I said to myself, “!بسم الله“, “그냥해!”, “Just do it!”, “hajar bleh!” (i just kept believing there must be something on this trip…)
Setelah naik taksi dari yok/역 (stasiun kereta), kami sampai di tempat parkir di Nogodan (ujung timur dari taman nasional Jirisan). Oh iya, Jirisan adalah nama gunung sekaligus nama taman nasional. Di taman nasional Jirisan ada beberapa gunung. Di gunung Jirisan sendiri ada lebih dari 10 titik yang disebut puncak, atau bong (봉) dalam bahasa Koreanya. Di dalam taman nasional Jirisan terdapat 7 shelter (tempat berlindung), yang biasa dipakai untuk beristirahat atau bahkan menginap oleh para pendaki.
Masih di tempat parkir di Nogodan, Ardy merapihkan dan mengecek perlengkapan dan perbekalan kami. Ternyata.. kita berdua ga bawa botol air plastik. Kalau termos gua bawa 2, udah berisi sama air panas dan juga bandrek. Si ardy ngarepin di atas (tempat parkir) itu ada yang jual. Namun emang kita lagi ga hoki (mungkin karena lagi liburan Seollal), toko yang jualan botol air di situ tertutup oleh kerangkeng tanpa penjual, cuma bisa dilihat dari luar di dalamnya dijual air mineral (hiks..) Sempat bingung, Ardy melihat ada botol plastik aneh bekas soju/makolli/mekju (apalah namanya, pokoknya itulah!), dan nyuruh gua untuk nyuci tuh botol, untuk selanjutnya dipake untuk menyimpan air. Botol yang bentuknya mirip botol jin ini akhirnya gua cuci dan gua isi air dari dispenser. Tapi sebelum dimasukkin ke carrier (tas raksasa yg biasa dipake pendaki)-nya si Ardy, gua iseng ngebalik tuh botol. Dan tess..tess.. tess.. biarpun dah ditutup rapat, tuh botol tetap netesin air, alias ga bisa rapat dan sangat rawan bikin becek isi tas lain yang seharusnya kering. Zzzz….. (emang dasar botol jin!!).
Pusing2, gua bilang ke Ardy, “gua mau ke WC!” Emang dasar insting pemulung, pas lagi jalan ke WC, gua ngeliat tempat sampah. Dan dilalahnya tempat sampah ala Korea adalah sampah tuh dipisah2. Ngeliat ada tempat sampah khusus botol plastik, dan wattaaa… buanyak botol bekas air mineral di sana ^^. Kesenengan, langsung aja gua ambil 2 botol ukuran 2 liter dan balik ke Ardy. Tapi… ternyata (haha, again) satu botol yang gua ambil bekas botol cairan radiator mobil, ya pokoknya akhirnya gua tukerlah sama botol air mineral.
Kita mulai berangkat pukul 3:05 sore. Perjalanan lancar, aman dan terkendali.. Semakin ke atas jalan semakin tertutup oleh salju. Nampaknya meskipun ga ada salju sama sekali di kaki gunung, di daerah puncak saljunya masih sangat tebal. Kami awalnya belum memakai Crampon karena kelicinan masih bisa diatasi dengan sepatu gunung biasa. Setelah melewati shelter Nogodan, jalanan mulai terasa licin dan baru kita memasang crampon. Dan ternyata ga salah, kaki2 kami jadi dapat mencengkram es dan salju dengan mantap.
Awalnya Ardy berencana agar kita bermalam di Shelter Paikol. Shelter Paikol ini 2 kilometer melenceng dari rute utama (nantinya kami harus jalan 2 km lagi sekedar untuk kembali ke rute utama). Namun karena menurut peta itulah shelter yang terdekat dan terjangkau sebelum gelap, jadi untuk amannya kita harus bermalam di situ. Konyolnya, ketika kami sedang berjalan menuju Paikol, ada orang Korea (bagi yang belum tahu, orang Korea itu Ardy semua! wkwkwk) tiba2 berbalik arah, dan memutuskan kembali ke rute utama. Gua ga ngerti apa yang terjadi, tapi Ardy terlihat seru nunjuk2 peta bersama si Ajosshi ini, dan akhirnya Ardy bilang ke gua, kata si orang itu ada shelter di sekitar sini (sambil nunjuk peta, padahal di situ ga ada apa2). Sebagai orang yang cuma bisa ngikut (ya gua suju hiker gtu), gua sih oke2 aja apa kata teman senior gua ini. Lagipula, sedari awal prinsip gua di hiking ini adalah
“whatever will come, just come, coz that’s what im looking for..”
Filed by hasrule at February 10th, 2011 under Winter, my life, our green earth, travelling in Korea ^^ and tagged jirisan, naik gunung, winter hiking
3 persons have commented this post
the opposites of.. you is I, hit is miss, me is you

You hit me..
><
I miss you…

~dibacaGakYa..
Filed by hasrule at January 25th, 2011 under Quote me :), Winter, my life and tagged i miss you, the opposites, words' opposites, you hit me, you hit me i miss you
No comments on this post yet
aaa
I thought it’s just my another subway day..
bbbBut apparently,
what’s with these galaxy tab and iPad? and you can use em for free. and smiling like this
put your a** in a cafe style bench
It was a bad luck that I didn’t bring my big ol SLR, but finding this rare subway was really one of my great luck
Filed by hasrule at January 6th, 2011 under Korea, Koreans in Korea, my life, travelling in Korea ^^ and tagged cool subway, gadget, galaxy tab, ipad, seoul metro subway
3 persons have commented this post
It is in the darkness of night, that the stars shine brightly…
Filed by hasrule at December 24th, 2010 under Quote me :)
2 persons have commented this post